Metode Pengembangan Keberagamaan pada Anak Usia Dini di Indonesia

 

Pendidikan anak usia dini sangat penting bagi perkembangan dan pertumbuhan anak, bahkan sangat penting untuk masa depan anak. Menurut Fadhilah, Pendidikan anak usia dini merupakan suatu usaha yang dilakukan untuk memberikan pengasuhan, arahan, rangsangan, serta berbagai aktivitas yang bertujuan untuk membantu anak dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya. Pendidikan ini ditujukan untuk anak berusia 0 hingga 6 tahun dan berfungsi sebagai tahap prasekolah yang memberikan berbagai rangsangan guna mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak secara fisik, kognitif, sosial-emosional, serta kemampuan berbahasa dan berkomunikasi, sehingga anak lebih siap untuk menempuh jenjang pendidikan berikutnya. Menurut Suyadi, anak usia dini memerlukan intervensi pendidikan yang tepat guna mengoptimalkan perkembangan baik secara fisik maupun psikologis.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 5 Tahun 2022 tentang Standar Kompetensi Lulusan Pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah pada Pasal 4 ayat (3) disebutkan bahwa Standar tingkat pencapaian perkembangan anak usia dini sebagaimana dimaksud pada ayat (2) difokuskan pada aspek perkembangan anak yang mencakup: a. nilai agama dan moral; b. nilai Pancasila; c. fisik motorik; d. kognitif; e. bahasa; dan f. sosial emosional.

Pada ayat (4) poin a  disebutkan bahwa Aspek perkembangan anak sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dirumuskan secara terpadu dalam bentuk deskripsi capaian perkembangan yang terdiri atas : mengenal dan percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, mengenal ajaran pokok agama, dan menunjukkan sikap menyayangi dirinya, sesama manusia serta alam sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Esa melalui partisipasi aktif dalam merawat diri dan lingkungannya.

Berdasarkan Keputusan Menteri Agama Nomor 347 Tahun 2022 tentang Pedoman Implementasi Kurikulum Merdeka Pada Madrasah disebutkan bahwa Standar Isi RA mengembangkan muatan al-Qur’an Hadis, Akidah Akhlak, Fikih, Sejarah Kebudayaan Islam, dan Bahasa Arab yang terintegrasi dalam kegiatan bermain secara menyenangkan dan bermakna. Upaya peningkatan fleksibilitas ruang lingkup materi dengan memberikan ruang kepada pendidik untuk memfasilitasi Peserta Didik mengembangkan kompetensinya dan mengadopsi prinsip diferensiasi, ragam laju perkembangan anak, latar belakang anak, termasuk anak berkebutuhan khusus.

Pendidikan nilai-nilai agama dan moral pada anak sangat berkaitan dengan perilaku, kesopanan, serta kemauan anak dalam menerapkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memiliki nilai-nilai tersebut, anak diharapkan mampu membedakan antara perilaku yang baik dan yang buruk, serta menjalankan ajaran agamanya dengan penuh ketaatan. Jika anak mendapatkan pemahaman yang salah atau tidak menerima bimbingan dan pengarahan yang tepat mengenai suatu situasi, maka kemungkinan besar anak akan memiliki pemahaman yang keliru. Oleh karena itu, pendampingan dan arahan dari pendidik, orang tua, serta lingkungan sekitar sangat diperlukan untuk membantu anak dalam memahami dan menerapkan nilai-nilai tersebut dengan benar.

Untuk menjangkau dunia anak-anak yang penuh imajinasi dan rasa ingin tahu, pendekatan yang digunakan dalam pendidikan agama harus kontekstual dan menyenangkan. Metode seperti keteladanan, guru dan orang tua sebagai role model, pembiasaan dalam rutinitas harian, mendongeng kisah-kisah teladan, hingga penggunaan lagu dan permainan bernuansa religius merupakan strategi efektif yang sejalan dengan tahap perkembangan anak.

Dengan cara ini, anak tidak hanya menghafal nilai-nilai agama, tetapi menghidupinya dalam keseharian. Misalnya, membiasakan mengucap syukur sebelum makan, belajar meminta maaf saat berbuat salah, atau berbagi dengan teman sebagai bentuk konkret dari ajaran agama.

Metode Pendidikan yang Efektif berdasarkan kajian pustaka dan penelitian lapangan:

  1. Belajar sambil bermain: Anak mengembangkan potensi fisik, sosial, dan spiritual melalui permainan bernuansa religius (eprints.walisongo.ac.id, journal.iainkudus.ac.id).
  2. Storytelling dan dongeng: Fase dongeng efektif memperkenalkan moral Islami (The Fairy Tale Stage) (e-journal.staima-alhikam.ac.id).
  3. Metode talaqqi dan talqiyan fikriyan: Kombinasi hafalan dan diskusi menstimulasi minat serta hafalan Quran anak di PAUDqu Annisa Syarifah (publikasi.abidan.org).
  4. Keteladanan & pembiasaan: Orang tua dan guru menjadi model ritual keagamaan—seperti doa sebelum makan, sikap hormat, dan saling memaafkan—yang membentuk perilaku harian anak .
  5. Pendekatan holistik: Integrasi spiritual, emosional, sosial, dan kognitif tidak membuat pembelajaran agama terpisah, namun menyatu dalam kurikulum PAUD.

Menurut Herman Harell Horne, anak-anak  harus dididik dengan metode ilustrasi, anak-anak harus banyak melihat. Maka peserta didik anak usia dini harus diberi ilustrasi tentang agama dan keberagamaan. Pada  zaman modern ini, metode ilustrasi untuk peserta didik bisa dilakukan dengan menggunakan media digital seperti menonton kisah-kisah para nabi dan rasul melalui media digital, kemudian pendidik menjelaskan kisah tersebut lengkap dengan ibrah atau Pelajaran yang bisa dipetik dari kisah tersebut, ibrah atau pelarjan dari kisah tersebut bisa dikontekstualisasikan dengan  zaman  saat ini, pserta didik anak usia dini juga harus dijarakan membaca latin dan arab sehingga mampu membaca huruf latin dan arab.  Selain itu, peserta didik anak usia dini akan melihat keteladanan keberagamaan dari pendidik di sekolah atau madrasah, orang tua mereka di rumah, dan masyarakat di lingkungan mereka, keteladanan dari orang tua, pendidik, lingkungan sekitar sangat penting untuk keberhasilan pengembangan keberagamaan anak usia dini. Maka metode yang paling efektif untuk pengembangan keberagamaan anak usia dini yaitu dengan memggunakan metode keteladanan,  membaca, dan ilustrasi atau melihat.  

 

Rerensi

Herman Harell Horne. (2024). Filsafat Pendidikan. Indoliterasi :

Fitriyah. (2019). Implementasi Pengembangan Nilai Moral dan Agama Pada Anak Usia Dini Melalui Metode Keteladanan di TK Al-Muhsinpada tautana: https://journal.uinmataram.ac.id/index.php/IEK/article/view/1809

 

Nanda Aulia et al. (2023). Hubungan Antara Aktivitas Anak pada Penggunaan Metode Kibar dengan Kemampuan Membaca Huruf Hijaiyah Anak Usia Dini (Penelitian Di Kelompok A RA At-Taqwa Kecamatan Rajapolah Kabupaten Tasikmalaya). Pada https://ejournal.iaiibrahimy.ac.id/index.php/alihsan/article/view/1732

Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 5 Tahun 2022 tentang Standar Kompetensi Lulusan Pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah

Keputusan Menteri Agama Nomor 347 Tahun 2022 tentang Pedoman Implementasi Kurikulum Merdeka Pada Madrasah

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini